Kasus Ledakan Smelter Terus Terjadi, Perlu Audit Standar Pengembangan Smelter, Tidak Boleh Sembarangan


Kasus Ledakan Smelter Terus Terjadi, Perlu Audit Standar Pengembangan Smelter, Tidak Boleh Sembarangan



Bandung, JP (19-05-2024) 

Ledakan smelter nikel kembali berulang. Terbaru, kasus meledaknya pabrik smelter milik PT Kalimantan Ferro Industry di Kuta Kartanegara, Kalimantan Timur pada Kamis (16/5). 

Sebelumnya, pada Desember 2023, ledakan terjadi tungku smelter milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di Morowali yang menewaskan 21 pekerja.

Meledaknya nya Smelter dalam usia yang masih baru beberapa bulan beroperasi menunjukkan adanya anomali dan ketidak professionalan dalam pengembangan Smelter. Smelter didisain untuk beroperasi bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Sementara Smelter yang meledak adalah smelter yang baru bisa dihitung hari waktu pembangunan dan pengoperasian nya. Padahal pembangunan smelter menghabiskan biaya trilyunan rupiah. Belum break event Point sudah meledak instansi smelternya. Aneh dan terasa ada rekayasa busuk dalam pengembangan smelter Smelter yang meledak ini. Produk yang didisain untuk bisa beroperasional puluhan tahun, baru beberapa hari beroperasi sudah meledak, investasi pun hilang begitu saja, malah hutang muncul menumpuk trilyunan rupiah.

Menanggapi kasus ledakan smelter yang berulang terjadi, pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan, kecelakaan dan meledaknya smelter sudah terjadi berulang kali bahkan merenggut nyawa yang tidak kecil.

"Dari kejadian tersebut, saya menduga bahwa standar sistem keamanan di smelter yang sebagian besar dimiliki oleh China itu standarnya rendah," kata Fahmy saat dihubungi pers, Minggu (19/5).

Ia menjelaskan, standar smelter tersebut tidak sesuai dengan standar internasional. Jika menggunakan standar internasional, standarnya zero accident atau tidak pernah terjadi kecelakaan kebakaran atau meledak, tapi ini malah terjadi berulang kali.

Fahmy menyatakan bahwa memang apabila standar sistem keamanan smelter rendah, maka pemerintah lebih mengutamakan investasi dari luar meskipun dengan standar dan teknologi yang rendah daripada keselamatan para pekerja di smelter.

"Saya kira, smelter baru atau investor yang baru masuk harus memenuhi standar keamanan yang ditetapkan. JIka tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah, maka pemerintah harus berani menolak investasi smelter tersebut," ungkapnya.

Ia menambahkan, untuk smelter existing atau yang sekarang sudah beroperasi perlu adanya audit forensik secara berkala untuk memastikan bahwa smelter tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan.

"Saya kira itu upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya kebakaran atau ledakan smelter lagi," tandasnya. (HAR)








 


 

Previous Post Next Post